Karya Ilmiah Individu, Masyarakat, Keluarga, dan Urbanisasi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk individu, keluarga, dan
masyarakat oleh karenanya manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang
selalu hidup berkelompok atau berorganisasi dan membutuhkan orang lain.
Masyarakat merupakan wadah berkumpulnya individu-individu yang hidup secara
sosial, masyarakat terdiri dari ‘Saya’, ‘Anda’ dan ‘Mereka’ yang memiliki
kehendak dan keinginan hidup bersama.Kita tahu dan menyadari bahwa manusia
sebagai individu dan makhluk sosial serta memahami tugas dan kewajibannya dalam
stiap tatanan kehidupan berkelompok dan dalam struktur dan sistem sosial yang
ada. Telah kita maklumi bahwa penduduk adalah sekumpulan manusia yang duduk
atau menempati pada wilayah tertentu. Sedangkan masyarakat merupakan kumpulan
dari penduduk.
Dalam hidup bermasyarakat, satu sama lain
saling membutuhkan. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai berbagai
aktiviyas dan berinteraksi satu dengan yang lain serta masing-masing memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Dalam suatu daerah/wilayah tertentu kebutuhan penduduk diharapkan dapat terpenuhi dari hasil daerah tersebut, lebih-lebih pada daerah agraris di Indonesia penduduk suatu wilayahnya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari wilayah tersebut dengan bekerja mengolah tanah yang tersedia.
Dalam suatu daerah/wilayah tertentu kebutuhan penduduk diharapkan dapat terpenuhi dari hasil daerah tersebut, lebih-lebih pada daerah agraris di Indonesia penduduk suatu wilayahnya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari wilayah tersebut dengan bekerja mengolah tanah yang tersedia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Individu
Kata “ Individu” berasal dari kata latin, yaitu individuum,
berarti “yang tak terbagi”. Jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai
untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Arti lainnya adalah sebagai pengganti “orang seorang”
atau manusia perorangan. Disini terlihat bahwa sifat dan fungsi manusia,
sebagaimana ia hidup di tengah-tengah individu lain dalam masyarakat.
Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat
dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia
perorangan, dapat kita uraikan, bahwa individu adalah seorang manusia yang
tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga
mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.
Makna manusia menjadi individu apabila pola tingkah lakunya hampir identik
dengan tingkah laku massa yang bersangkutan. Proses yang meningkatkan ciri-ciri
individualitas pada seseorang sampai pada ia adalah dirinya sendiri, disebut
proses individualisasi atau aktualisasi diri. Manusia sebagai individu memiliki tugas pada dirinya
sendiri yaitu;
1.
Menuntut ilmu
pengetahuan, merekayasa teknologi serta memanfaatkannya untuk kemakmuran dan
kesejahteraan. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk
terus belajar. Proses belajar berarti proses perubahan sikap dan perilaku
dengan mendapatkan pengalaman dan pelatihan.
2.
Menghiasi diri dan budi pekerti dengan
baik serta akhlak yang terpuji, setiap tindakan dan perbuatan dalam kehidupan
bermasyarakat selalu bercermin pada keindahan dan keelokan budi pekerti maka
akan tercipata kesejukan dalam kehidupan bermasyarakat,
Tidak seperti kerumunan bebek. Ternyata
masyarakat yang juga da[at disebut sebagai kerumunan atau himpunan manusia,
menuntut setiap individu untuk :
1.
Memiliki kedudukan dan peranan tertentu
dalam lingkungannya.
2.
Memiliki tingkah laku yang khas (tidak
seperti bebek)
3.
Memiliki kepribadian
Artinya jika ketiga hal tersebut tidak
berhasil dimiliki seseorang, maka orang itu akan cenderung tidak disenangi oleh
orang – orang lain di sekitarnya (masyarakat).
Seseorang yang tidak diketahui apa kedudukannya, atau apa peranannta dalam
masyarakat tidak akan dihormati oleh orang lain. Demikian pula, masyarakat
cenderung tidak menyenangi orang-orang yang tidak memiliki tingkah laku yang
khas atau tidak memiliki kepribadian.
Menyadari tuntutan masyarakt itu, maka dalam hidupnya, setiap individu akan
berusaha keras untuk daoat memiliki ketiga hal di atas. Proses dimana setiap
individu berusaha memiliki ciri-ciri dimaksud, dalam ilmu social disebut
sebagai proses individualisasi atau proses aktualisasi diri. Proses itulah yang
secara umum dikenal luas sebagai proses menjadi dewasa. Akan tetapi karena
pengertian kedewasaan kadang-ladang diterjemahkan naïf, hanya berkaitan dengan
usia seseorang, maka ilmu sosial lebih memilih istilah individualisasi atau
aktualisasi diri.
2.2 Masyarakat
Istilah
masyarakat berasal dari bahasa Arab “syaraka” yang berarti ikut serta,
berpartisipasi, atau “masyaraka” yang berarti saling bergaul. Di dalam bahasa
Inggris dipakai istilah “society”, yang sebelumnya berasal dari kata lain
“socius” berarti “kawan”. Pendapat sejenis juga terapat
dalam buku “Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial” karangan Abdul Syani (1987),
dijelaskan bahwa perkataan masyarakat berasal dari kata musyarak (Arab), yang
artinya berkumpul bersama, hidup bersama dengan saling berhubungan dan saling
mempengaruhi, selanjutnya mendapat kesepakatan menjadi masyarakat (Indonesia). Dalam
bahasa Inggris, kata masyarakat diterjemahkan menjadi dua penegrtian, yaitu
society dan community.
1. Menurut
Abdul Syani (1989), masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut
pandang.
a. Memandang
community sebagai unsure statis, artinya community terbentuk dalam suatu wadah
atau tempat dengan batas-batas tertentu, maka ia menunjukkan bagiandari
kesatuan-kesatuan masyarakat sehingga ia dapat pula disebut sebagai masyarakat
setemnpat, misalnya kampong, dusun atau kota-kota kecil. Masyarakat setempat
adalah suatu wadah dan wilayah dari kehidupan sekelompok orang yang ditandai
oleh adanya hubungan sosial. Disamping itu, dilengkapi pula oleh adanya
perasaan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang timbul atas akibat dari
adanya pergaulan hidup atau hidup bersama manusia.
b. Community
dipandang sebagai unsure yang dinamis, artinya menyangkut suatu proses (nya)
yang terbentuk melalui faktor psikologi dan hubungan antar manusia,
maka di dalamnya ada yang sifatnya fungsional. Dalam hal ini dapat diambil
contoh tentang masyarakat pegawai negeri sipil, masyarakat ekonomi, masyarakat,
mahasiswa dan sebagainya.
2. Dari
kedua cirri khusus yang dikemukakan di atas, berarti dapat diduga bahwa apabila
suatu masyarakat tidak memenuhi cirri-ciri tersebut, maka ia dapat disebut
masyarakat society. Masyarakat dalm pengertian society terdapat interaksi
sosial, perhitungan-perhitungan rasional dan like interest, hubungan-hubungan
menjadi bersifat pamrih dan ekonomis.
2.2.1 Pengertian
Masyarakat Menurut Para Ahli
1. Ralp Linton (1936)
Masyarakat
adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama dan bekerja sama, sehingga
mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu kesatuan sosial
dengan batas ternetu. Pengertian ini menunjukkan adanya syarat-syarat sehingga
disebut masyarakat, yakni adanya pengalaman hidup bersama dalam jangka waktu
cukup lama dan adanaya kerjasama diantara anggota kelompok, memiliki pikiran
atau perasaan menjadi bagian dari satu kesatuan kelompoknya. Pengalaman hidup
bersama menimbulkan kerjasama, adaptasi terhadap organisasi dan pola tingkah
laku anggota-amggota. Factor waktu memegang peranan penting, sebab setelah
hidup bersama dalam waktu cukup lama, maka terjadi proses adaptasi terhadap
organisasi tingkah laku serta kesadaran berkelompok.
2. John Lewis Gillin dan John Gillin (Gillin
& Gillin) 1945
Masyarakat
itu adalah kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai kebiasaan, tradisi,
sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi
pengelompokkan-pengelompokan yang lebih kecil. Pengertian ini menunjukkan bahwa
masyarakat itu meliputi kelompok manusia yang kecil sampai dengan kelompok
manusia dalam suatu masyarakat yang sangat besar, seperti suatu Negara. Seperti
kita ketahui bersama suatu Negara juga memiliki tradisi, sikap, dan perasaan
persatuan yang sama dengan keteraturan.
3. Melville J. Herskovits atau Herkovits (1955)
Masyarakat
adalah sekelompok individu yang di organisasikan yang mengikuti satu cara hidup
tertentu. Penegrtian ini menekan adanya ikatan anggota kelompok untuk mengikuti
cara-cara hidup teretntu yang ada di dalam kelompok masyarakat.
4. Koentjaningrat (1980)
Masyarakat
adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu system adat
istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa
identitas bersama.
5. Selo Soemardjan
Masyarakat
adalah orang –orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
6. Hassan Shaidly
Masyarakat
sebagai suatu golongan besar-kecil dari beberapa manusia, yang dengan atau
sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama
lain.
2.2.2 Hubungan
Antara Individu dan Masyarakat
Mengenai
bagaimana hubungan antara individu dengan masayarakat, ada tiga alternative
jawaban.
1. Individu memiliki status yang relative
dominan terhadap masyarakat
2. Masyarakat memiliki status yang relative
dominan terhadap individu
3. Individu dan masyarakat saling tergantungan
Hubungan
antara individu dengan masyarakat seperti dimaksud diatas menunjukkan bahwa
individu memiliki status yang relative dominan terhadap masyarakat, sedangkan
lainnya menganggap bahwa individu itu tunduk pada masyarakat. Sementara itu
masih terdapat suatu hubungan lagi, yaitu adanya hubungan interpenden (saling
ketergantungan) antara individu di dalam masyarakat yang tidak terbatas
kuantitasnya. Setiap satuan individu itu masing-masing mempunyai kekhususan
yang berpengaruh terhadap dinamika kehidupan masyarakat. Dalam hal tersebut,
Soepomo berpendapat, bahwa individu ialaah suatu makhluk dimana masyarakat
mengkhususkan diri. Masyarakat adalah keseluruhan dari sekian anggota-anggota
seorang-seorang. Karena itu, keinsafan individu kemasyarakatan dan keinsafan
individu bercampur baur.
Walaupun
demikian, bukan berarti kehidupan individu warga masyarakat sama sekali tidak
peluang bagi kehidupan yang bersifat pribadi. Sebaliknya dalam kehidupan
masyarakat yang telah mengalami proses serba individualis pun kehidupan bersama
tetap tidak akan ditinggalkan.
2.3 Keluarga
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga
terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan
serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Ada
beberapa jenis keluarga, yakni:
· Keluarga Inti yang
terdiri dari suami, istri, dan anak.
· Keluarga Konjugal yang terdiri
dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak mereka yang terdapat interaksi
dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.
· Keluarga Luas yang ditarik atas dasar garis
keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas meliputi hubungan antara
paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
Peranan keluarga
menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang
berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi
dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga
adalah sebagai berikut:
Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya,
berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman,
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta
sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya. Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan
sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Anak-anak melaksanakan
peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial , dan spiritual.
2.3.1 Fungsi yang dijalankan keluarga adalah :
Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga
mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan
anak.
Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana
keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga
melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara
instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam
berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling
pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga
memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala
keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain
setelah dunia.
Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga
mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan
suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama,
bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga
meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
Memberikan kasih sayang, perhatian,dan rasa aman
diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
Kemudian definisi dari kata keluarga itu sendiri
adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu , memiliki
hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab diantara
individu tersebut. Keluarga merupakan tempat pertama dalam pembentukan karakter
dari perilaku suatu individu dalam perkembangannya sebagi makhluk social.
Selain keluarga, perilaku masyarakat disekitarnya pun
turut berperan dalam menentukan pola perkembangan suatu individu. Masyarakat
sendiri berarti suatu istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia
yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan
jaringan perhubungan antara berbagai individu. Dari segi pelaksanaan, ia bermaksud
sesuatu yang dibuat – atau tidak dibuat – oleh kumpulan orang itu. Masyarakat
merupakan subjek utama dalam pengkajian sains sosial.
2.4 Urbanisasi
Urbanisasi adalah
perpindahan penduduk dari desa ke kota.
Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran
penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai
permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota
yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan,
fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain
sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan
keluarnya.
Berbeda dengan perspektif ilmu kependudukan, definisi
urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan.
Perpindahan manusia dari desa ke kota hanya salah satu penyebab urbanisasi.
Perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni migrasi penduduk dan
mobilitas penduduk. Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari desa ke
kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota, sedangkan Mobilitas Penduduk
berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara saja atau tidak menetap.
Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah
atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh
yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak
kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya. Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk
sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk
urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di
bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan
seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaan ke perkotaan.
BAB III
ANALISIS
Dari
pembahasan yang telah kami paparkan di dalam bab pembahasan maka dari itu, kami
dapat mengambil kesimpulan bahwa individu dan masyarakat merupakan perangkat
yang bersatu padu atau dengan kata lain tidak dapat dipisahkan dimana individu
dan masyarakat senantiasa ada di dalam setiap pergaulan hidup, individu tidak
mungkin dapat hidup dengan sempurna tanpa bermasyarakat.
Referensi :
Komentar
Posting Komentar